Silaturahmi dan Buka Bersama ala Kang Yance

Menyambut bulan Ramadhan tahun ini H. Irianto MS Syafiuddin yang juga merupakan Ketua DPD Golkar Jabar yang juga merupakan calon Gubernur Jabar, mengisinya dengan melakukan silaturahmi dan acara buka bersama disejumlah tempat, seperti yang dilakukan kemarin di Pondok Pesantren Tarbiyyatul Falah Selabintana Panjalu, Kabupaten Sukabumi pimpinan KH. Cece ME Syarifuddin.

Dalam kegiatan buka bersama tersebut Kang Yance tak segan-segan menyantap semur jengkol yang disuguhkan oleh keluarga besar pondok pesantren tersebut. Dalam kegiatan tersebut turut dihadiri ulama, santri, masyarakat dan ratusan kader massa Partai Golkar Jawa Barat se-Sukabumi.

Tampak juga salahseorang anggota DPR RI, Dewi Asmara yang juga merupakan salah satu anggota Fraksi Partai Golkar. Dalam pidato sambutannya Kang Yance mengurai makna di balik Ramadahan, dan tak ragu memaparkan program-program yang berpihak pada kemajuan dan pemberdayaan umat Islam khususnya dalam dunia pendidikan seperti pondok pesantren serta madrasah diniyah.

“Kalau saya dipercaya rakyat untuk mempimpin Jawa Barat, saya siap untuk memajukan dunia pendidikan Islam seperti yang saya lakukan ketika menjadi Bupati Indramayu. Buka bersama tersebut kemudian dilanjutkan dengan sholat Maghrib kemudian rombongan meneruskan silaturahmi ke Ponpes Syamsul Ulum Kota Sukabumi selanjutnya sholat Isya dan tarawih bersama.

 

Posted in Umum | Tagged , , , , , , , , , | Leave a comment

Dede Yusuf Bantah Dekati PPP

Dede Yusuf Bantah Dekati PPP

Dede Yusuf membantah dirinya mendekati PPP (Partai Persatuan Pembangunan). Pernyataan ini terkait pemberitaan di media tentang pendekatannya ke PPP.

“Siapa yang mendekati, ini berita apa rumor? Demokrat sendiri masih banyak urusan yang harus diselesaikan, saya masih tetap fokus di Demokrat,” katanya saat ditemui wartawan di Gedung DPRD Jabar, Jum´at, (10/8).

Lebih lanjut Dede Yusuf mengatakan partai Demokrat menjadi basis dirinya untuk mendapatkan rekomendasi menjadi Cagub. Setelah nanti ada proses penetapan dirinya baru berfikir koalisi atau satu paket dalam Pilgub Jawa Barat mendatang.

“Tentang urusan koalisi dengan partai lain, partai yang akan memutuskan,” pungkasnya.

Posted in News Jawa Barat | Tagged , , , , | Leave a comment

Kang Yance & Akbar Tanjung Buka Bersama

Kang Yance & Akbar Tanjung Buka Bersama

Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat, Dr.H. Irianto MS Syafiuddin atau akrab disapa Kang Yance, menghadiri acara buka bersama yang dilaksanakan oleh keluarga besar Partai Golkar Kota Bekasi bertempat di Yayasan Attaqwa, Pekayon Jaya, Bekasi. Turut Hadir pula dalam acara tersebut Ketua Dewan Pertimbangan Pusat Partai Golkar Dr.Ir. H. Akbar Tanjung.

Acara ini merupakan acara rutin yang digelar tiap tahunnya oleh DPD Partai Golkar Kota Bekasi, namun hanya tempatnya saja yang kali ini di pusatkan di Yayasan Attaqwa sebuah yayasan yang menaungi Yatim Piatu dan Pendidikan TK, TPA.

Kegiatan Safari Ramadhan ini dimaksudkan untuk dapat bersilaturahmi dengan masyarakat, alim, ulama dan tokoh yang aada di Kota Bekasi. Acara ini juga disertai dengan pembagian santunan anak yatim dan buka bersama setelah sebelumnya Kang Yance dan Bang Pepen sapaan akrab Rahmad Effendi melaksanakan sholat Ashar di Masjid Jami Attaqwa.

Tags :
Posted in News Jawa Barat | Tagged , , , , | Leave a comment

M.Q. Iswara : Cagub Jabar hanya Kang Yance

Pernyataan tersebut datang dari Sekretaris DPD Golkar M.Q. Iswara saat ditemui disela-sela kesibukannya di Gedung DPRD Provinsi Jabar. pernyataan tersebut menepis kabar keinginan Dede Yusuf (Demokrat) untuk berpasangan dengan Herman Sutrisno yang masih kader Partai Golkar dalam Pilgub Jabar 2013 yang akan datang.

“Keputusan kami mengusung Kang Yance untuk menjadi Gubernur Jawa Barat dalam Pilgub 2013 sudah bulat, ini berdasarkan Rapat Pimpinan Daerah Partai Golkar Jawa Barat, yang diikuti pimpinan partai seluruh kabupaten dan kota se-Jabar” jelas Iswara.

Sementara itu DPD Golkar Jabar saat ini sedang menunggu SK Rekomendasi Kang Yance sebagai Cagub dari DPP Golkar. “Jika SK ini nantinya sudah turun maka harus dipatuhi oleh semua kader tak terkecuali. Jika ada salah satu kader yang dicalonkan partai lain tetapi masih terdaftar kader Golkar maka akan diberikan sanksi tegas,” tegas Iswara.

Ditemui terpisah Kabid. Komunikasi dan Informasi DPD Partai Demokrat Jabar, Yan Rizal Usman mengatakan bahwa keinginan dede Yusuf tersebut belum tentu sepaham dengan keputusan Majelis Tinggi Partai. MTP inilah yang nanti berperan menentukan calon gubenur dari Demokrat.

“Dede Yusuf bisa saja memilih pasangannya, tetapi keputusan tetap belum final,” ucapnya.

 

 

Posted in Politik | Tagged , , , , , , , , , | Leave a comment

Kapolres Kuningan Pantau Kesiapan Arus Mudik

Kapolres Kuningan Pantau Kesiapan Arus Mudik

Kapolres Kuningan melakukan pengecekan kesiapan pos pengamanan Lebaran di wilayah Kabupaten Kuningan, Kamis (9/8). Dalam kegiatan tersebut Kapolres Kuningan AKBP Wahyu Bintono Hari Bawono didampingi oleh Kepala Satuan dan sejumlah perwira Polres Kuningan.

“Kami memperkirakan arus mudik tahun ini tak jauh berbeda dengan tahun-tahun lalu,” Kata AKBP Wahyu Bintono HB.

Seperti pada tahun-tahun sebelumnya puncak kepadatan arus mudik akan terjadi pada sebelum dan sesudah Lebaran. Pada hari -3 biasanya sudah terlihat puncak kepadatan dan pada pasca Lebaran pada hari -2.

“Kepadatan arus balik biasanya terjadi sampai pada H-7,” sambungnya.

Sejumlah titik kepadatan yang berpotensi menimbulkan kemacetan diprediksi akan terjadi di Jalan Siliwangi kawasan Kuningan Kota, jala raya Kuningan-Ciledug dikawasan Pasar Ciawigebang serta pada ruas jalan raya Kuningan-Cirebon.

Posted in News Jawa Barat | Tagged , , , , | Leave a comment

Pendidikan Berbasis Kewilayahan

Kalau di Jepang bisa, kenapa di Indramayu tidak? Pertanyaan itu terus menggelayut dalam benak dan pikiran Yance, ketika ia terpilih menjadi bupati pada tahun 2000. Ia memberikan prioritas terhadap pendidikan. Bahkan melihat perkembangan sumber daya manusia yang sangat tertinggal dibanding dengan kabupaten/kota lainnya di Jawa Barat, ia berusaha untuk merevolusi pendidikan di Indramayu.

Sekalipun Indramayu itu memiliki sejarah yang berbeda dengan Jepang namun revolusi pendidikan di daerahnya itu tentu saja didasari realitas sosial, ekonomi, budaya dan geografi yang ada di kabupaten tersebut. Dalam struktur masyarakat Indramayu terdapat 254.194 Ha. Hanya saja lahan sawah yang luas tersebut, jika dibagi dengan jumlah tenaga kerja kerja di sektor pertanaian, maka lahan yang tersedia tidak cukup memadai. Rata-rata kepemilikan lahan penduduk juga terbatas. Lebih dari 80% petani di Indramayu menggarap sawah dan tanah dibawah 1 Ha. Yang menggarap sawah dan tanah darat lebih dari 1 Ha hanya sekitar 20%. Bahkan penggarap lahan diatas 2 Ha hanya 14.295 orang (5,61%).

Begitu pula di sektor tenaga kerja, dimana kabupaten ini terkenal sebagai kabupaten pengekspor TKI yang tidak terdidik. Konsekuensinya, bukannya meningkatkan kesejahteraan, malahan mereka sering mengalami berbagai macam perlakuan yang tidak manusiawi, baik dari sisi finansial maupun berupa penganiayaan fisik. Banyak cerita memilukan, yang dialami para TKI asal Indramayu, mulai dari di siksa, dianiaya, di eksploitasi, di usir dan di tipu, menjadi cerita populer di desa-desa di Indramayu. Belum lagi dengan kasus penyakit yang sering menggerogoti para TKI setelah pulang dari perantauan dan luar negeri, menambah gambaran bagaimana SDM Indramayu masih sangat rendah.

Begitu pula dari sisi interaksi sosial masyarakatnya, ketika awal Yance menjabat sebagai bupati, masyarakat Indramayu dikenal sebagai masyarakat yang memiliki kebiasaan tawuran, baik antar kampung, antar desa maupun antar kecamatan. Budaya tawuran itu telah menghancurkan nilai-nilai sosial, pranata sosial, dan harmonisasi sosial hingga menyebabkan rasa ketakutan, suasana mencekam, dan dendam dan saling curiga diantara sesama warga kampung dengan tetangganya. Ibarat api dalam sekam, tawuran itu menjadi potensi yang setiap saat bisa memicu lahirnya kerusuhan, yang menghancurkan masyarakat itu sendiri.

Berdasarkan fenomena semacam itu, Yance menggulirkan revolusi pendidikan. Ia merombak total sistem pendidikan yang berjalan di Indramayu, agar bisa menjawab permasalahan mendasar yang dihadapi oleh masyarakat Indramayu. Seiring dengan pertumbuhan populasi dan makin sempitnya lahan persawahan, tenaga kerja di sektor pertanian tentu harus dikurangi, agar permasalahan kemiskinan struktural bisa dipecahkan. Begitu juga dengan TKI tidak terdidik yang banyak bekerja di luar negeri secara berlahan juga harus diminimalisir. Tenaga-tenaga terdidik Indramayu harus diciptakan, selain untuk mensubtitusi tenaga kerja di sektor tersebut, juga disiapkan untuk menyongsong era knowledge based economy (ekonomi berbasis pengetahuan) pada tahun-tahun mendatang. Begitu pula dengan tawuran yang ada di masyarakat juga harus dihentikan secepat-cepatnya.

Melalui kerangka berfikir semacam itu, Yance selama memimpin Indramayu harus bisa melakukan transformasi untuk mengubah struktur kehidupan masyarakat Indramayu. Dari ketergantungan pada Sumber Daya Alam (SDA), baik itu dari sektor pertanian dan sumber daya migas ke sektor industri pengolahan yang berbasis kekayaan alam. Begitu pula ekspor TKI yang selama ini banyak mengandalkan tenaga kerja tidak terdidik, ke depan Posyandu harus mampu mengekspor TKI yang memiliki kualifikasi keahlian yang dibutuhkan oleh pasar kerja internasional. Hal yang sama juga di bidang sosial. Bila masyarakat Indramayu dikenal sebagai masyarakat yang menyenangi tawuran, ke depan harus menjadi masyarakat yang bisa hidup berdampingan, harmonis, menjunjung tali persaudaraan diantara mereka dengan prinsip-prinsip kesetaraan.

Untuk menciptakan struktur masyarakat yang dinamis, konstruktif dan produktif semacam itu, pendidikan memegang kunci yang penting untuk melakukan perubahan. Hanya saja, revolusi pendidikan yang digulirkan Yance itu berbeda dengan revolusi pendidikan yang ekstrim sebagaimana terjadi di Barat yang dimotori oleh Ivan Illich dan Emil Durkheim, maupun revolusi pendidikan yang terjadi di Amerika Latin, yang di motori oleh Paulo Freire dengan teologi pembebasan.

Yance tak terpengaruh dengan mahzab pendidikan yang terjadi di Barat maupun Amerika Latin yang pernah mempengaruhi dunia pendidikan di berbagai negara maju maupun berkembang. Ia lebih fokus bagaimana revolusi pendidikan yang ia gulirkan itu bisa menjawab permasalahan di daerahnya di satu sisi dan di sisi lain juga sejalan dengan pendidikan nasional. Ia mengacu pada UU No. 20 Tahun 2000 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan dan UU No. 32 Tahun 2004, tentang Pemerintah Daerah, dimana masing-masing kabupaten/kota mempunyai hak dan wewenang, kewajiban untuk mengatur dan mengurus pengembangan pendidikan di wilayahnya.

Berdasarkan pemahaman dan perenungan yang mendalam, sebagai orang Dermayu yang tidak terpisahkan dari rakyatnya, ia memperkenalkan model pembangunan pendidikan yang berbasis kewilayahan di tingkat kabupaten. Kewilayahan ini menjadi titik tekan, supaya pendidikan yang berkembang di Kabupaten Indramayu itu mampu menjawab permasalahan masyarakat di Indramayu. Dimana, pendidikan diselenggarakan berdasarkan kebutuhan daerah dengan memanfaatkan sumber daya dan potensi daerah yang bermanfaat dalam proses pengembangan kompetensi pendidikan.

Ada lima acuan yan diajukan Yance dalam pembangunan pendidikan yang berbasis kewilayahan. Pertama, potensi sumber daya alam, yaitu potensi yang terkandung dalam bumi, air dan dirgantara yang dapat didayagunakan untuk berbagai kepentingan hidup. Kedua, potensi sumber daya manusia dengan segala potensi yang dimilikinya dapat dimanfaatkan dan dikembangkan menjadi makhluk sosial yang adaptatif, transformative, dan mampu mendayagunakan potensi alam sekitarnya secara seimbang dan berkesinambungan.

Ketiga, potensi geografis meliputi obyek formal dan obyek material. Obyek formal geografi adalah fenomena, geosfer yang terdiri dari lapisan bumi, cuaca, iklim, litosfer, hidrosfer, biosfer (lapisan kehidupan flora dan fauna) dan antroposfer. Pendekatan itu meliputi; pendekatan keuangan (spatial approach), pendekatan lingkungan (ecological approach) dan pendekatan komplek wilayah (integrated approach).

Keempat, potensi budaya; ciri khas budaya masing-masing daerah tertentu (yang berbeda dengan daerah lain) merupakan sikap menghargai kebudayaan daerah sehingga menjadi keunggulan lokal. Dalam konteks ini walaupun Kabupaten Indramayu bagian dari Jawa Barat, tetapi kultur, bahasa, adat istiadat, karakteristiknya sangat berbeda dengan daerah-daerah lain di Jabar. Ini merupakan khasanah sebagai pijakan untuk mengembangkan pendidikan di Kabupaten Indramayu, sekaligus sebagai ciri khas tersendiri dalam menangani pendidikan di Kabupaten ini.

Kelima, potensi historis; konsep ini merupakan potensi sejarah dalam bentuk peninggalan benda-benda purbakala maupun tradisi yang masih dilestarikan, apabila dioptimalkan akan menjadi keunggulan di daerah tersebut. Dalam konteks luas, bahwa potensi sejarah sebuah wilayah akan menjadi referensi atau rujukan awal untuk menentukan langkah pendidikan yang akan di garapnya.

Dengan pembangunan pendidikan yang berbasis kewilayahan ini, pendidikan di era kepemimpinan Yance, tentu kontras dengan pendidikan Indramayu pada era 2000-an. Pada era itu pendidikan di Indramayu sama dengan daerah-daerah lain, mengikuti format pendidikan nasional dari pusat yang cenderung menyamaratakan antara daerah yang satu dengan daerah yang lain, sebagai akibat warisan kebijakan Orde Baru yang sentralistik. Pola pendidikan sentralistik itu membuat pendidikan di Indramayu makin terpuruk dan kurang memiliki signifikansi terhadap pembangunan di Indramayu.

Dengan berbasis kewilayahan, Yance ingin menawarkan konsep pendidikan yang betul-betul didasari kebutuhan masyarakat Indramayu sekaligus memanfaatkan potensi yang dimiliki oleh kabupaten tersebut, tanpa harus meninggalkan konsep pendidikan nasional yang digariskan dari pusat. Dengan pendidikan berbasis kewilayahan tersebut impelementasi kebijakannya terkadang kontras dengan kabupaten/kota di Jawa barat maupun di wilayah lain di Indonesia. Namun sebagai sebuah terobosan (breakthrough), apa yang dilakukan oleh H. Irianto MS Syafiuddin ini bisa menjadi model daerah lain dalam mengakselerasi pembangunan sumber daya manusia berdasarkan potensi yang dimiliki daerahnya.

Dalam mengembangkan pendidikan berbasis kewilayahan tersebut, Yance juga men-sinkron-kan dengan visi dan misi kepala daerah terpilih dengan menetapkan prioritas target capaian IPM (Indeks Pembangunan Manusia/IPM). Melalui pendidikan diharapkan mampu meningkatkan kualitas sumberdaya manusia, yang meminjam indicator UNDP (1995) diarahkan pada empat komponen, yakni;

1. Produktivitas, masyarakat harus dapat meningkatkan produktivitas mereka dan berpartisipasi secara penuh dalam proses memperoleh penghasilan dan pekerjaan berupah. Oleh karena itu pertumbuhan ekonomi adalah salahsatu jenis dari pembangunan manusia;
2. Ekuitas, masyarakat harus punya akses untuk memperoleh kesempatan yang adil. Semua hambatan terhadap peluang ekonomi dan politik harus dihapus agar masyarakat dapat berpartisipasi di dalam dan memperoleh manfaat dari kesempatan-kesempatan itu;
3. Kesinambungan, akses untuk memperoleh kesempatan harus dipastikan tidak hanya untuk generasi sekarang tapi juga untuk generasi yang akan datang. Segala bentuk permodalan fisik, manusia, lingkungan hidup, harus dilengkapi;
4. Pemberdayaan, pembangunan harus dilakukan oleh masyarakat dan bukan hanya untuk mereka. Masyarakat harus berpartisipasi penuh dalam mengambil keputusan dan proses-proses yang mempengaruhi kehidupan mereka.

Untuk membangun manusia melalui pendidikan Yance menjabarkan melalui aspek pemerataan, relevansi pendidikan dengan pembangunan, efisiensi pengelolaan, dan kualitas pendidikan.

SUMBER : www.kangyance.com

Posted in Gagasan Cagub | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Keberadaan Pasar Tumpah akan Hambat Pemudik

Keberadaan Pasar Tumpah akan Hambat Pemudik

Pasar tumpah yang tersebar disepanjang jalur utara, tengah dan selatan Jawa Barat, akan menganggu arus mudik. Demikian pernyataan Kadin Perhubungan Jawa Barat Dicky Sahromi sesaat setelah gelar pasukan di kantornya Kamis (9/8).

Di Jawa Barat setidaknya terdapat 42 pasar tumpah yang terbagi di 3 titik yang berpotensi akan mengganggu arus mudik. Ketiga titik tersebut diantaranya adalah 23 titik pasar tumpah di jalur utara, 9 titik dijalur tengah dan 5 titik di jalur selatan serta 11 titik yang tersebar diberbagai wilayah.

“Titik pasar tumpah yang paling rawan macet adalah Pasar Tegalgubug dan Palimanan di Pantura, Tunjungsari diwilayah tengah dan Pasar Limbangan yang ada di jalur selatan,” jelasnya.

Posted in News Jawa Barat | Tagged , , , , | Leave a comment