Derita Nelayan Pantura

Menyebut nelayan khususnya nelayan tradisional, orang akan selalu menghubungkannya dengan kehidupan yang serba susah, hidup pas-pasan. Atau kalau menurut istilah seperti “Hidup segan mati tak mau”. Demikianlah gambaran yang di berikan oleh orang untuk menggambarkan betapa miskinnya kehidupan nelayan tradisional Indonesia.

Pantai Utara Jawa (Pantura) merupakan daerah yang sangat terkenal seantero negeri, terlebih saat musim mudik tiba maka namanya akan digaungkan berkali-kali oleh para reporter media nasional bahkan Internasional. Hal tersebut karena juluran pantai dari Jakarta hingga ujung timur Jawa ini merupakan salah satu jalan utama yang menghubungkan berbagai wilayah di Pulau Jawa.

Sayang gaung Pantura hanya sebatas itu, dibalik semuanya tersimpan sebuah cerita tentang masyarakat di sekitarnya. Masyarakat yang mayoritas hidup sebagi nelayan, mereka hidup di balik megah dan berjejernya rumah makan yang menutupi pantai. Nelayan yang tidak semuanya memiliki perahu, nelayan yang hampir kehilangan pentainya karena reklamasi, nelayan tradisional yang jauh dari kesejahteraan dibandingkan pemilik rumah makan mapun pengendara mobil pribadi yang memanfaatkan jalan raya di hadapannya.

Secara realitas, kondisi kehidupan nelayan khususnya nelayan tradisional memang miskin. Gambaran ini nampaknya sangat kontradiksi dengan potensi pesisir dan laut Indonesia yang begitu besar, laut Indonesia termasuk yang paling luas di dunia. Dengan keluasan, yang sudah termasuk wilayah Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) diperkirakan kurang lebih 5,8 juta kilometer dengan panjang garis pantai seluruhnya 80,790 kilometer atau 14 % panjang garis pantai di dunia. Namun anehnya nelayan khususnya nelayan tradisional kita tetap miskin. Bahkan bisa di katakan nelayan adalah kelompok masyarakat yang paling miskin dari pada petani atau pengrajin.

Jumlah nelayan yang berada dalam garis kemiskinan ini, sangat besar. Tentu menjadi pertanyaan, mengapa nelayan kita tetap miskin, sedangkan potensi pesisir dan kelautan Indonesia cukup besar? Apakah karena memang takdir mereka miskin, malas, atau karena teknologi yang mereka pakai begitu sederhana seperti yang sering dilontarkan oleh berbagai pemilik modal? Atau jangan-jangan kemiskinan yang mereka alami disebabkan oleh adanya persoalan lain?

Pulau Jawa seharusnya berbangga masih mempunyai nelayan tradisional yang selama ini terus menyuplai kebutuhan pangan. Dan, semestinya juga hal ini mendapat penghargaan dari dari ratusan juta rakyat Indonesia karena asupan protein hewani bisa terus terpelihara. Nelayan tradisional sebenarnya dihargai oleh negara dengan enetapkan tanggal 6 April sebagai Hari Nelayan Tradisional, tapi selama ini tidak pernah diperingati, bahkan oleh nelayan itu sendiri. Pasalnya, nelayan tradisional saat ini terus terancam dengan sumber penghidupannya. Ironisnya lagi mereka perlahan-lahan tergusur dari ruang tinggal mereka.

Salah satu cerita miris dan paradoksial nelayan tradisional adalah yang terjadi pada nelayan pantura Indramayu. Nelayan pantai utara Indramayu seperti kehidupan dilautan terombang ambing pada ketidakjelasan nasib. Tidak jelasnya nasib ini dikarenakan gejala alam dan parahnya juga dikarenakan birokratisme pemerintahan dan tekanan dari swasta.

Nelayan hampir selalu digelisahkan oleh rob atau banjir air laut belum lagi masalah BBM yang mengalami kenaikan. Airpasang itu kata nelayan membuat mereka mengurungkan niat melaut, selain itu mengancam ratusan Hektar tambak udang dan bandeng milik nelayan di sepanjang Jalur Pantura Indramayu. Akibat rob itu nampak naik ke darat dan sudah menggenangi beberapa saluran sekunder di dekat areal tambak udang dan bandeng milik petani. Nelayan sangat khawatir air laut yang sedang rob itu semakin naik ke darat sehingga menenggelamkan areal tambak udang maupun bandeng. Seandainya air laut yang sedang rob itu masuk ke lahan tambak udang atau bandeng, kata dia maka nasib para petani tambak udang dan bandeng di Pantura Indramayu terancam menderita kerugian materi mencapai ratusan juta rupiah.

Bagai permainan sepakbola nelayan mereka digempur dari berbagai lini. Inilah fakta yang mereka hadapi. Sulitnya melaut serta tekanan dari berbagai pihak sepertinya belum cukup untuk membuat mereka sengsara. Nelayan pantura Indramayu masih harus menghadapi harga sembako seperti beras, minyak sayur, dan sebagainya terkendala. Harga bahan bakar naik, dan daya beli masyarakat menurun. Potret Nelayan Indramayu…..

About Suara Rakyat

Sebuah proses demokratis pemilihan Kepala Daerah untu Jawa Barat yang nantinya akan menghasilkan nama pasangan pemimpin yang akan mengelola daerah Jawa Barat selama lima tahun. Dalam proses ini membutuhkan pemilih yang cerdas agar kelak yang memimpin daerah Jawa Barat adalah orang yang berkualitas dan bertanggung jawab dan bisa menjadi tauladan bagi rakyatnya.
This entry was posted in Sosial and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s